Saturday, March 21, 2015

SPELLING DAN GRAMMAR

Spelling dan Grammar

Penulisan dokumen yang baik sehingga pembaca dapat mengerti dengan baik harus memiliki kebenaran dari dua sisi, yaitu :
  1. Ejaan : susunan dan kelengkapan huruf pembentuk kata / frase (Spelling)
  2. Tata Bahasa : susunan kata atau kalimat yang membentuk arti seutuhnya (Grammar)
Untuk ejaan, berikut adalah beberapa contoh penggunaan ejaan yang baik dan salah :
  • mobil dan bukannya mobeel (ejaan salah)
  • jaya dan bukannya djaja (ejaan lama)
  • modernisasi dan bukannya moderenis
  • dan sebagainya
Untuk tata bahasa, berikut adalah beberapa contoh penggunaan tata bahasa yang baik dan salah :
  • Anda ingin kemana setelah sore ini ?” dengan “Kemana Anda setelah ini sore inginkan ?
  • Anak itu lagi bermain dengan keponakannya di pekarangan depan.” dengan “Keponakannya bermain lagi anak itu dengan di depan pekarangan“.
  • dan sebagainya
Untuk tata bahasa, walaupun penulisan kata demi kata benar tapi karena susunannya tidak mengikuti kaidah yang ditentukan dan dapat dimengerti  dengan baik menjadikan pembaca kalimat tersebut kebingungan pada akhirnya.

Penggunaan Fitur Spelling dan Grammar di Word 2007

Beruntung untuk kita, dengan fasilitas aplikasi Microsoft Word yang canggih maka penulisan kata demi kata pada dokumen kita dapat diperiksa baik ejaan maupun tata bahasanya sehingga dapat membantu kita dengan maksimal.
Namun sayangnya, sampai saat ini bahasa yang didukung dengan baik adalah Bahasa Inggris. Walaupun sebenarnya kita bisa juga mengisi dictionary Word 2007 ini dengan Bahasa Indonesia.
Untuk artikel ini, kita akan memberikan contoh dengan Bahasa Inggris. Kita akan mulai dengan contoh spelling berikut ini.
  1. Jalankan aplikasi Microsoft Word 2007 Anda dan buat dokumen baru.
  2. Ketik kalimat “That carr is being fixed.” pada ruang kerja dan perhatikan kalau kata carr diberi garis bawah merah bergelombang. Itu tandanya kata kita memiliki kesalahan eja (spelling error).
  3. Untuk membetulkan kesalahan eja tersebut, klik kanan pada kata tersebut. Akan terlihat daftar kata pengganti yang disarankan.
  4. Pilih kata car sebagai pengganti.
  5. Tanda spelling error akan hilang.
  6. Selesai.

SUMBER :

TENSES

Berikut macam-macam, penggunaan, rumus dan contoh 16 macam tenses bahasa Inggris.
Penggunaan dan Rumus Tenses
Contoh Kalimat Tenses
Tense ini untuk menyatakan fakta, kebiasaan, dan kejadian yang terjadi pada saat sekarang ini.
We agree with the speaker’s opinion.
(Kami setuju dengan opini pembicara.)
S + V-1
Tense ini untuk membicarakan aksi yang
sedang berlangsung sekarang atau rencana dimasa depan.
I’m driving a car to Bandung now.
(Saya sedang menyetir mobil ke Bandung sekarang.)
S + am/is/are + present participle
Tense ini digunakan untuk mengungkapkan
suatu aktivitas atau situasi yang telah dimulai di masa lalu dan telah selesai pada suatu titik waktu tertentu di masa lalu atau masih
berlanjut sampai sekarang.
have lived in Cilegon for 3 months.
(Saya telah tinggal di Cilegon selama 3 bulan.)
S + have/has + past participle
Tense ini untuk mengungkapkan aksi yang
telah selesai pada suatu titik dimasa lampau atau aksi telah dimulai di masa lalu dan terus berlanjut sampai sekarang.
The toddlers have been playing a ball for an hour.
(Balita-balita itu telah bermain bola selama satu jam.)
S + have/has + been + present participle
Tense ini untuk menunjukkan bahwa suatu
kejadian terjadi di masa lampau.
The party started at 10.00 a.m.
(Pesta dimulai jam 10 pagi.)
S + V-2
Tense ini digunakan untuk mengungkapkan
bahwa suatu aksi sedang terjadi pada waktu tertentu di masa lampau.
The team was playing basketball all day yesterday.
(Tim bermain basket sepanjang hari kemarin.)
S + was/were + present participle
Tense ini untuk menyatakan bahwa suatu aksi telah selesai pada suatu titik di masa lalu sebelum aksi lainnya terjadi.
When he came last night, the cakehad run out.
(Ketika dia datang semalam, kue sudah habis.)
S + had + past participle
Tense ini digunakan untuk mengungkapkan
suatu aksi (dengan durasi waktu tertentu) telah selesai pada suatu titik waktu tertentu dimasa lalu.
The labors had been demonstrating for an hour when the manager came.
(Pekerja telah berdemonstrasi selama satu jam ketika manager datang.)
S + had + been + present participle
Tense ini untuk menyatakan bahwa suatu aksi terjadi dimasa depan, secara spontan atau terencana.
You will win the game.
(Kamu akan memenangkan permainan tersebut.)
am going to meet him
tomorrow.
(Saya akan menemuinya besok.)
Tense ini untuk mengungkapkan aksi yang
akan sedang terjadi pada waktu tertentu di masa depan.
He will be sleeping at 10 p.m.
(Dia akan sedang tidur pada jam 10 malam.)
S + will + be + present participle
Tense ini untuk mengungkapkan bahwa suatu aktivitas akan sudah selesai pada suatu titik waktu di masa depan.
At this time next month, I’ll have finished my English
course.
(Pada waktu yang sama bulan depan, saya akan telah menyelesaikan kursus
bahasa Inggris.)
S + will + have + past participle
Tense ini untuk mengungkapkan bahwa suatu aksi akan sudah berlangsung selama sekian lama pada titik waktu tertentu di masa depan.
The cat will have been sleeping long when you get home.
(Kucing itu telah lama tidur ketika kamu pulang.)
S + will + have + been + present participle
Tense ini untuk menyatakan suatu aksi yang akan dilakukan, membuat prediksi, dan membuat janji di masa depan pada saat berada dimasa lalu.
He would forgive you.
(Dia akan memaafkanmu.)
S + would + bare infinitive
Tense ini untuk membicarakan suatu aksi yang akan sedang berlangsung (berupa prediksi/rencana) di masa depan pada saat berada dimasa lalu.
She would be working at nine o’clock this morning.
(Dia akan sedang bekerja jam sembilan pagi ini.)
S + would + be + present participle
Tense ini untuk membicarakan suatu aksi
aktivitas yang akan telah dilakukan di masa lalu. Bentuk ini juga digunakan pada conditional sentence type 3.
I thought you would have slept by the time I arrived.
(Saya pikir kamu akan sudah tidur pada saat saya tiba.)
S + would + have + past participle
Mirip dengan future perfect continuous tense,
namun realisasi aksi yang dilakukan dapat diketahui sekarang karena aksinya terjadi di masa lampau.
He would have been working as a civil engineer in Jakarta by the end of this week last month.
(Dia akan telah bekerja sebagai enjinir sipil di Jakarta pada akhir minggu ini bulan lalu.)
S + would + have + been + present participle
Catatan:

Rumus pada tabel di atas merupakan rumus umum. Beberapa tense seperti simple present tense dan simple future tense memiliki opsi rumus lain yang dijelaskan lebih detail di halaman masing-masing.

SUMBER :


Pelanggaran etika bisnis dan persaingan tidak sehat dalam upaya penguasaan pangsa pasar terasa semakin memberatkan para pengusaha menengah kebawah yang kurang memiliki kemampuan bersaing karena perusahaan besar telah mulai merambah untuk menguasai bisnis dari hulu ke hilir. Perlu adanya sanksi yang tegas mengenai larangan praktik monopoli dan usaha yang tidak sehat agar dapat mengurangi terjadinya pelenggaran etika bisnis dalam dunia usaha.

CONTOH KASUS
KASUS ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN
Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.
Analisis secara teoritis :
A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasan mie instan tersebut, tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker.
Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.
Kasus Indomie masalah yang terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam produk mie tersebut sehingga Taiwan mempermasalahkan kandungan nipagin yang ada dalam produk tersebut. Menurut BPOM kandungan nipagin yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut, kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu standar di antara kedua Negara yang berbeda Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision dan karena Taiwan bukan merupakan anggota Codec sehingga harusnya produk Indomie tersebut tidak dipasarkan ke Taiwan.
Penelitian telah menunjukkan bahwa Methylparaben secara praktis tidak beracun oleh kedua baik secara oral dan parenteral. Dalam sebuah populasi dengan kulit normal, Methylparaben praktis non-iritasi dan non-sensitif, namun reaksi alergi terhadap paraben tertelan telah dilaporkan.  Indonesia menganut  Standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC). Forum CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan organisasi perumus standar internasional untuk bidang pangan.

ANALISIS :
Dalam kasus ini sudah jelas pelanggaran etika dalam berbisnis. Tidak teliti dan peka terhadap standarisasi produk yang akan dijual di negara lain. Yang dimaksudkan tidak beretika adalah dalam hal etika khusus yang mencakup dunia bisnis dan melibatkan masyarakat luas. Kasus ini juga telah melanggar norma hukum di negara tersebut dikarenakan produk yang dijual tidak sesuai dengan peraturan yang ada. Adapun penjelasan mengenai kandungan yang terdapat pada produk ini, yaituMethyl p-hydroxybenzoate (disebut juga Methyl parahydroxybenzoate) terdapat didalam makanan instant dan makanan lainnya. Bahan ini adalah bahan pengawet makanan yang cara kerjanya adalah mencegah timbulnya jamur (fungi) yang selain sebagai pengawet makanan juga dipakai sebagai bahan campuran kosmetik supaya tidak ada jamur. Tidak ada bukti bahwa methylparaben atau propylparabens berbahaya pada konsentrasi yang biasanya digunakan dalam perawatan tubuh atau kosmetik. Methylparaben dan propylparabens dianggap GRAS (Generally regarded as safe, umumnya dianggap aman) untuk makanan dan pengawetan antibakteri kosmetik. Methylparaben ini mudah dimetabolisme oleh bakteri tanah umum, sehingga benar-benar terurai. Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidrolisis menjadi asam p-hidroksibenzoat dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh.
Indonesia  memperbolehkan penggunaan zat ini hingga 250mg/Kg, sedangkan Taiwan memperbolehkan hingga 100mg/Kg. Jadi kalau dilihat dari standart yang berlaku di Indonesia, mie instant Indomie ini tidak melanggar aturan legal di Indonesia. Namun Produk ini menjadi tidak legal di Tawian karena melebihi batas ambang yg berlaku disana. Dep Kes (POM-Pengawas Obat dan Makanan) pun tidak bisa serta merta melarang penggunaan bahan pengawet ini. Karena tidak ada bukti klinis yang meyakinkan bahayanya. Dan juga pelarangannya akan diartikan tidak melindungi industri dalam negeri sebagai produsen makanan. Taiwan dan Hongkong serta negeri china barangkali lebih ketat memberlakukan pembatasan penggunaan E218  dibanding Indonesia. Karena mie merupakan makanan pokok bagi bangsa chinese, sehingga secara akumulatif jumlah yang dikonsumsi akan sangat besar disana.

SARAN
Bagi perusahaan Indomie sebaiknya memperbaiki etika dalam berbisnis, harus transparan mengenai kandungan-kandungan apa saja yang terkandung dalam produk mie yang mereka produksi agar tidak ada permasalah dan keresahan yang terjadi akibat informasi yang kurang bagi para konsumen tentang makanan yang akan mereka konsumsi. Lebih teliti dalam penyebaran produk apakah sudah sesuai dengan standarisasi negara yang dituju.

SUMBER REFERENSI :

Saturday, March 14, 2015

Aktiva

AKTIVA TAK BERWUJUD

PSAK No.19 (revisi 2009)1 merujuk IAS No. 38, mendefinisi aktiva tak berwujud (ATB) adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi dan tidak memiliki substansi atau wujud fisik.
Aktiva tak berwujud mempunyai karakteristik penting, yaitu : (Jusup Al. Haryono : 2009) 2
1.   Kurang memiliki eksistensi fisik, tidak seperti aktiva berwujud seperti property, pabrik, dan peralatan, aktiva tak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege yang diberikan pada perusahaan yang menggunakannya.
2.   Bukan merupakan instrumen keuangan, aktiva seperti deposito bank, piutang usaha, dan investasi jangka panjang dalam obligasi serta saham tidak memiliki substansi fisik, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai aktiva tak berwujud. Aktiva ini merupakan instrument keuangan dan menghasilkan nilainya dari hak untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
3.   Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi, Aktiva tak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun tahun. Investasi dalam aktiva ini biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban amortisasi periodik.
Perbedaan antara akuntansi aktiva tak berwujud bila dibandingkan dengan akuntansi aktiva tetap. Aktiva tidak berwujud adalah aktiva non moneter yang dapat diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif (IAI, 2002 : 19.5)3 . Menurut Soemarso S.R (2005 : 20)4 menyatakan bahwa aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan, dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta nilainya cukup besar. Pertama, istilah yang digunakan untuk menghapus aktiva tak berwujud adalah amortisasi (bukan depresiasi). Untuk mencatat amortisasi aktiva tak berwujud maka rekening biaya amortosasi didebet dan rekening aktiva tak bewrujud yang bersangkutan dikredit. Alternatif lain, bisa juga dikredit rekening akumulasi amortisasi, seperti halnya akumulasi depresiasi pada aktiva tetap. Namun sebagian besar perusahaan memilih cara yang sederhana, yaitu dengan langsung mengkredit rekening aktiva tak bewrujud. Perbedaan kedua ialah bahwa periode amortisasi suatu aktiva tak berwujud tidak boleh melebihi 40 tahun.
Contoh Aktiva Tetap Tak Berwujud (Intangible Asset) :
1.   Hak Sewa (Lease Hold)
Hak yang diperoleh atas suatu sewa aktiva tertentu (sewa tempat usaha, sewa gedung, sewa mesin) yang biasanya menggunakan kurun waktu tertentu, disahkan oleh pejabat pembuat akte (notaris).
2.  Hak Patent
Hak yang diperoleh atas suatu penemuan tertentu. Dimana atas penemuan tersebut, penemu akan memperoleh manfaat tertentu untuk kurun waktu tertentu dan dapat diperpanjang.
3.  Hak Penggandaan (Copyright)
Hak yang berikan atas suatu penulisan, baik itu berupa karya ilmiah, puisi, novel, maupun lirik lagu, notasi lagu/irama tertentu, script atau scenario film tertentu. Copyright meliputi hak untuk memperbanyak dan mengedarkannya.
4. Franchise

Hak yang diperoleh untuk melakukan suatu usaha tertentu, atau memasarkan produknya, sekaligus mengikuti pola usaha, cara pengelolaan, penggunaan logo maupun penggunaan alat usaha tertentu yang aslinya dimiliki oleh perusahaan yang memberikan hak franchise.

RECEIPT

 How to make fried rice

INGREDIENTS :
  • ·         4 cups cooked rice
  • ·         2 thinly sliced medium onion
  • ·         1 clove garlic, crushed
  • ·         2 medium eggs
  • ·         1 tsp shrimp paste or chicken (optional)
  • ·         1 tsp chili powder
  • ·         1 Tbsp light soy sauce
  • ·         3 Tbsps oil
  • ·         Salt to taste
  • ·         Cucumber, tomato and cilantro for garnishing


  PREPARATION
  1. Cooked rice – Day old rice is ideal for fried rice as it is drier, which prevents it from sticking to the bottom of the saucepan or the wok. The rice cannot be cooked with too much water which makes it too gooey. It needs to be cooked al-dente, with a small degree of plus and minus in the texture for personal preferences.

     2.  Chili paste – Use only pure chili powder. Add 1 tsp of water and mix together. Let it stand for             about half an hour. li]Heat up 1 Tbsp of oil on low heat in a wok. Add the shrimp paste, and                 cook until it is brown and fragrant.


     3.  Add another Tbsp of oil and add the garlic and onions. Fry until golden brown, and the                         fragrance of the garlic and onions are released.


    4.  Add the chili paste followed by the rice.


   5.  Fry on high heat. Fry until all the ingredients are evenly distributed. Stir constantly so that none           of the ingredients stick to the wok.


   6. Add the soy sauce and stir until the soy sauce is evenly distributed.


   7. Add 2 Tbsp of water if you feel the rice is too grainy and hard. The rice should be nice and                  fluffy. Separately, using a tablespoon of oil in a frying pan, fry the eggs sunny side up.


   8.  Serve the rice with a few slices of cucumbers and tomatoes. Garnish with some cilantro, and an           egg for each serving.

Sunday, March 8, 2015

TOEFL

Test of English as a Foreign Language or TOEFL /ˈtoʊfəl/ toh-fəl, is a standardized test of English language proficiency for non-native English language speakers wishing to enroll in U.S. universities. TOEFL is a trademark of ETS (Educational Testing Service), a private non-profit organization, which designs and administers the tests. The scores are valid for two years; then they are no longer reported.
History
In 1962, a national council made up of representatives of thirty government and private organizations was formed to address the problem of ensuring English language proficiency for non-native speakers wishing to study at U.S. universities. This council recommended the development and administration of the TOEFL exam for the 1963-1964 time frame. The test was originally developed at the Center for Applied Linguistics under the direction of Stanford University applied linguistics professor Dr. Charles A. Ferguson. TOEFL test was first administered in 1964 by the Modern Language Association financed by grants from the Ford Foundation and Danforth Foundation.
In 1965, The College Board and ETS jointly assumed responsibility for the continuation of the TOEFL testing program.
In 1973, a cooperative arrangement was made between ETS, The College Board, and the Graduate Record Examinations board of advisers to oversee and run the program. ETS was to administer the exam with the guidance of the TOEFL board.

Computer-based test
The Computer-Based TOEFL Test In July 1998, ETS introduced the computer-based version of the TOEFL test (TOEFL cBT) in many areas of the world. This move was the fi rst critical step toward a long-term goal of enhancing assessments by using electronic technology to test more complex skills. A primary goal of the TOEFL program is to provide more extensive information than it has in the past about candidates’ English proficiency. In response to institutions’ requests to include a productive measure of writing, the program added :
1.  Reading
The Reading section consists of questions on 4–6 passages, each approximately 700 words in length. The passages are on academic topics; they are the kind of material that might be found in an undergraduate university textbook. Passages require understanding of rhetorical functions such as cause-effect, compare-contrast and argumentation. Students answer questions about main ideas, details, inferences, essential information, sentence insertion, vocabulary, rhetorical purpose and overall ideas. New types of questions in the TOEFL iBT test require filling out tables or completing summaries. Prior knowledge of the subject under discussion is not necessary to come to the correct answer.
2.  Listening
The Listening section consists of questions on six passages, each 3–5 minutes in length. These passages include two student conversations and four academic lectures or discussions. The conversations involve a student and either a professor or a campus service provider. The lectures are a self-contained portion of an academic lecture, which may involve student participation and does not assume specialized background knowledge in the subject area. Each conversation and lecture passage is heard only once. Test-takers may take notes while they listen and they may refer to their notes when they answer the questions. Each conversation is associated with five questions and each lecture with six. The questions are meant to measure the ability to understand main ideas, important details, implications, relationships between ideas, organization of information, speaker purpose and speaker attitude.
3.  Speaking
The Speaking section consists of six tasks: two independent and four integrated. In the two independent tasks, test-takers answer opinion questions on familiar topics. They are evaluated on their ability to speak spontaneously and convey their ideas clearly and coherently. In two of the integrated tasks, test-takers read a short passage, listen to an academic course lecture or a conversation about campus life and answer a question by combining appropriate information from the text and the talk. In the two remaining integrated tasks, test-takers listen to an academic course lecture or a conversation about campus life and then respond to a question about what they heard. In the integrated tasks, test-takers are evaluated on their ability to appropriately synthesize and effectively convey information from the reading and listening material. Test-takers may take notes as they read and listen and may use their notes to help prepare their responses. Test-takers are given a short preparation time before they have to begin speaking. The responses are digitally recorded, sent to ETS’s Online Scoring Network (OSN), and evaluated by three to six raters.
4.  Writing
The Writing section measures a test taker's ability to write in an academic setting and consists of two tasks: one integrated and one independent. In the integrated task, test-takers read a passage on an academic topic and then listen to a speaker discuss it. The test-taker then writes a summary about the important points in the listening passage and explains how these relate to the key points of the reading passage. In the independent task, the test-taker must write an essay that states their opinion or choice, and then explain it, rather than simply listing personal preferences or choices. Responses are sent to the ETS OSN and evaluated by at least 3 different raters.

Paper-based Test
The paper-based version of the TOEFL test (TOEFL pBT) continues to be administered on specifi ed dates in some countries, particularly in areas where accessibility to the Internet-based test (e.g.,TOEFL iBT) is a concern. Each form of TOEFL pBT consists of three separately timed sections; the questions in each section are multiplechoice, with four possible answers or options per question. All responses are gridded on answer sheets that are scored by computer.
1. Listening Comprehension
The listening comprehension measures the ability to understand English as it is spoken in North America. The oral features of the language are stressed, and the problems tested include vocabulary and idiomatic expression as well as special grammatical constructions frequently used in spoken English. The stimulus material and oral questions are recorded in standard North American English; the response options are printed in the test books.
2. Structure and Written Expression
The structure and written expression measures recognition of selected structural and grammatical points in standard written English. The language tested is formal, rather than conversational. The topics of the sentences are of a general academic nature so that individuals in specifi c fi elds of study or from specifi c national or linguistic groups have no particular advantage.
3. Reading Comprehension
Reading Comprehension measures the ability to read and understand short passages that are similar in topic and style to those that students are likely to encounter in North American colleges and universities. Examinees read a variety of short passages on academic subjects and answer several questions about each passage. The questions test information that is stated in or implied by the passage, as well as knowledge of some of the specifi c words as they are used in the passage.